Tampilkan postingan dengan label blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blog. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 Desember 2013

PENGERTIAN PERADABAN, CIRI-CIRI PERADABAN


Contoh Peradaban Mesir Kuno
Pengertian Peradaban
Membicarakan masalah pengertian peradaban, tidak bisa dilepaskan dari elemen-elemen tentang peradaban itu sendiri yaitu manusia dan peninggalannya. Banyak pengertian peradaban (Civilazation) yang berkembang sampai dengan saat ini, berdasarkan pemikiran dari para pakar atau dari segi bahasa. Kita akan mencoba menelaahnya untuk lebih memahami hakikat dari peradaban yang sesungguhnya baik dalam khazanah ilmu pengetahuan maupun dalam kehidupan kita sebagai manusia yang berperan besar dalam peradaban yang ada di dunia ini. Tentu saja seiring dengan perkembangan pola pikir dan menusia itu sendiri, pengertian peradaban ini terus mendapatkan penambahan- penambahan sehingga pengertian itu lebih bisa mencakup dari segenap denyut kehidupan masyarakat dimana peradaban itu sendiri tumbuh dan berkembang.
          Para peneliti ilmu-ilmu sosial telah turut serta menyumbangkan pemikirannya tentang pengertian peradaban ini. Namun dari sekian banyak pakar yang memberi definisi atau pengertian peradaban dan banyak dijadikan rujukan peneliti lain, setidaknya ada tiga orang antara lain Samuel Huntington, S. Czarnowski, dan Rene Sedilot. Ketiga pakar ini telah menyumbangkan pemikirannya dalam memberikan pengertian peradaban dengan lebih komprehensif.
1.       Samuel Huntington
Samuel Huntington memberikan pengertian peradaban sebagai nilai- nilai, institusi-institusi dan pola pikir yang menjadi bagian terpenting dari suatu masyarakat dan terwariskan dari satu generasi ke generasi yang lainnya. Ada dua hal penting tentang pengertian peradaban dari Samuel Huntington ini yaitu tentang pola pikir, tata nilai dan institusi (konten) dari suatu peradaban serta adanya upaya meneruskan atau mewariskan konten peradaban tersebut kepada generasi selanjutnya. Jadi kalau baru berupa pola pikir, institusi dan tata nilai belum merupakan suatu peradaban dari generasi dalam kurun waktu tertentu apabila tidak terjadi penyebarluasan, pewarisan kepada generasi selanjutnya. Tentu saja pengertian peradaban dari Samuel Huntington ini menjadi dasar bagi para peneliti selanjutnya untuk menentukan suatu peradaban tertentu. Pengertian peradaban yang dikemukakan Samuel Huntington ini berlaku untuk masyarakat secara umum asal memiliki konten peradaban dan ada upaya untuk meneruskan, memelihara atau mewariskannya kepada generasi muda selanjutnya.
2.       S. Czarnowski
S. Czarnowski mengartikan peradaban sebagai suatu taraf tertentu dari kebudayaan, yakni taraf yang tertinggi yang mengandaikan tingkat-tingkat perkembangan secara umum dari umat manusia sebelumnya yang lebih rendah selama prasejarah dan zaman-zaman yang biadab. Berbeda dengan Samuel Huntington, dalam memberikan pengertian peradaban ini S Czarnowski lebih menitik beratkan kepada periodisasi dari perkembangan hidup manusia di muka bumi ini. Dengan demikian S Czarnowski membagi peradaban kepada tiga periode yaitu jaman purba, pra sejarah dan jaman modern. S Czarnowski samasekali tidak membahas tentang konten dari suatu peradaban ketika memberti pengertian peradaban tersebut. Peneliti ini hanya berkonsentrasi dalam memberi pengertian peradaban kepada periode jaman semata. Namun tentu saja dalam kaitannya dengan periodisasi ini, S Czarnowski memberikan elemen-elemen pendukung dari masing-masing peradaban tersebut. Tanpa ini maka pengertian peradaban menjadi tidak jelas. Karena tidak menutup kemungkinan konten dari suatu peradaban masa lalu tetap dipelihara atau bahkan menjadi semacam rujukan untuk periode peradaban selanjutnya. Lalu, apakah bila ada suatu masyarakat tertentu yang masih memelihara peradaban purba, kemudian tumbuh dan berkembang pada kekinian, apakah kemudian akan dikategorikan sebagai peradaban kuno atau peradaban modern.
3.       Rene Sedilot
Rene Sedilot mengartikan peradaban sebagai khazanah pengetahuan dan kecakapan teknis yang terus meningkat dari satu generasi ke generasi selanjutnya dan sanggup berlanjut secara terus-menerus. Dalam hal keberlangsungan suatu peradaban, Rene Sedilot menitika beratkan pada upaya diwariskan kepada generas selanjutnya secara terus-menerus. Aspek ini mengingatkan kita pada pengertian peradaban dari Samuel Huntington. Namun elemen dasar dari suatu peradaban tidak memulu pola pikir, tata nilai dan institusi seperti pengertian peradaban dari Samuel, melainkan juga dimasukkan ke dalamnya tentang aspek kecapakan teknis. Kecapakan teknis tertentu yang seiring dengan perkembangan jaman mengalami perubah ke arah lebih baik, memang merupakan bagian (kontens) dari suatu peradaban. Bahkan kecapakan teknis yang diwujudkan dalam berbagai macam hasil karya juga yang menjadi dasar penandaan suatu peradaban. Dari pengertian peradaban yang dikemukakan oleh Rene Sedilot ini bisa dikatakan sebagai penyempurnaan akan pengertian peradaban yang dikemukakan oleh Samuel Huntington.
Pengertian Peradaban Lainnya
Dalam Islam, peradaban disebut juga Hadharah, artinya sekumpulan konsep tentang kehidupan yang berupa peradaban spiritual atau peradaban buatan manusia. Peradaban spiritual ini dalam bidang religi, contohnya peradaban islam dan sebagainya. Sedangkan peradaban buatan manusia, contohnya perdaban Yunani, Babilonia, dan sebagainya. Baik peradaban spiritual maupun peradaban buatan manusia, sama- sama di dalamnya mengandung tata nilai, konsep dan institusi yang diwariskan atau terus dipelihara agar tetap terjadi dan dijaga oleh generasi selanjutnya.
Dalam Webster Dictionary diartikan sebagai keadaan atau suatu proses peradaban, kemajuan kehidupan sosial dan kebudayaan, kurun dari kehidupan sosial tertentu, atau seluruh dunia yang sudah maju. Pengertian secara bahasa yang dijelaskan di dalam webster dictionary ini sepertinya merujuk kepada pengertian peradaban yang dikemukakan oleh Samuel Huntington atau setidak- tidaknya terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran dari Samuel Huntington. Peradaban juga dapat diartikan sebagai hasil dari kegiatan berpikir yang menghasilkan sesuatu yang lebih praktis, memberi kemudahan, dan peningkatan taraf hidup dalam kehidupan.
Peradaban merupakan tingkat kebudayan yang lebih tinggi dari kebudayan di zaman Jahiliyah atau kebodohan di mana manusia tidak beradab atau disebut biadab. Pengertian ini akan mengingatkan kita pada pengertian peradaban S Czanorwski yang mengadakan periodisasi masyarakat atau jaman yang masing-masing memiliki indikator yang berbeda satu sama lain. Peradaban adalah bidang kehidupan untuk menciptakan sesuatu yang berguna secara praktis. 
Peradaban adalah sebagian dari kebudayaan yang dibuat untuk memudahkan dan mensejahterakan kehidupan. Dari pengertian-pengertian peradaban tersebut, maka kita dapat identifikasikan bahwa sebuah peradaban pada hakikatnya adalah suatu bentuk perkembangan yang di dalamnya terdapat ciri-ciri sebagai berikut. Merupakan hasil pemikiran manusia baik berupa tata nilai, institusi maupun pola pikir Pemikiran didapat dari adanya sosialisasi. Dalam pengertian ini maka suatu peradaban akan mengalami proses pematangan dan kemudian diteruskan atau diwariskan kepada generasi selanjutnya. Pada saat atau setelah diwariskan ini suatu konten peradaban bisa saja mengalami perubahan ke arah perbaikan seiring dengan berkembangnya pemikiran- pemikiran baru. Adanya perkembangan atau perubahan ke tahap yang lebih baik. Menghasilkan sesuatu yang memberikan kemudahan. Maka pengertian peradaban dari S Czarnowski mendapatkan pemahaman yang tepat ketika suatu peradaban memerlukan periodisasi. Terdapat unsur budaya di dalamnya. Menciptakan sesuatu yang lebih praktis.
Adanya penggolongan generasi. Adanya pewarisan dari generasi sebelumnya ke generasi yang lebih muda. Sifatnya terus menerus, tidak pernah berhenti. Pengertian peradaban memang tak bisa terlepas dari masyarakat dalam kurun waktu tertentu dimana masyarakat itu pula yang menghasilkan dan membuat tata nilai, institusi sebagai bentuk atau hasil dari perkembangan pola pikirnya. Semua itu dihasilkan atau diciptakan untuk semakin memberi kemudahan. Dari sinilah maka tak bisa dipungkiri bahwa suatu peradaban memang berkembang terus seiring dengan perkembangan manusia itu sendiri.

Sumber :
http://www.anneahira.com/pengertian-peradaban.htm

Tentang Blog kami

Selamat datang di History Education Blog...


Latar Belakang pembuatan Blog kami adalah sebagai tugas mata kuliah Komputer dan Pengembangan Lab yaitu membuat media pembelajaran berbasis pada IT. Kelompok kami terdiri dari :
  1. Pujiono
  2. Rosita Nur Anarti
  3. Brilliantoro Yusuf Ervanda
  4. Putri megawati
  5. Andi Hermawan
  6. Dila Nurohmah
Kami memilih untuk membuat blog sebagai media pembelajaran karena di era yang semakin modern ini peran Internet dalam kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan, begitu juga dalam bidang pendidikan, dan menurut kami blog dapat memenuhi dan membantu proses pembelajaran.

Penggunaan Blog sebagai media pembelajaran telah marak beberapa tahun belakangan ini, namun seringkali kita dihadapkan pada keabsahan sumber dalam penyausunan isi dari blog tersebut. oleh karena itu kami mencoba untuk memberikan sebuah teroboson baru yaitu menggunakan sumber dari bacaan yang sudah valid, baik dari buku maupun website yang sudah berkompeten.

Kedepanya kami berharap blog kami bisa menjadi salah satu alternatif sebagai media pembelajaran yang interaktif, efisien, praktis, mudah dan tentunya murah. Serta menjadi solusi bagi pembelajaran yang tidak memerlukan tatap muka langsung karena alasan tertentu.

Terimakasih dan semoga bermanfaat 


Kontak

Dalam Pembuatan dan penyusunan blog ini tentunya masih terdapat banyak kekurangan, silahkan hubungi kami apabila anda menemukan kekeliruan baik dari isi maupun penulisanya, saran dan kritik anda amda sangat berharga bagi kami, terimakasih.

1. Putri Megawati

2. Rosita Nur anarti

3. Brilliantoro Yusuf Ervanda

4. Pujiono
tweet  : @jhion18

5. Andi Hermawan
fb        : https://www.facebook.com/andi.hermawan

6. Dila Nurohmah
fb        : https://www.facebook.com/dila.nurr

Senin, 16 Desember 2013

Kebudayaan Bacson-Hoabinh dan Kebudayaan Dongson


1.    Kebudayaan Bacson-Hoabinh

Kebudayaan Bacson-Hoabinh diperkirakan berasal dari tahun 10.000 SM-4000 SM, kira-kira tahun 7000 SM.  Kebudayaan ini berlangsung pada kala Holosen. Awalnya masyarakat Bacson-Hoabinh hanya menggunakan alat dari gerabah yang sederhana berupa serpihan-serpihan batu tetapi pada tahun 600 SM mengalami perubahan dalam bentuk batu-batu yang menyerupai kapak yang berfungsi sebagai alat pemotong. Ciri khas alat-alat batu kebudayaan Bacson-Hoabinh adalah penyerpihan pada satu atau dua sisi permukaan batu kali yang berukuran ± 1 kepalan dan seringkali seluruh tepiannya menjadi bagian yang tajam. Hasil penyerpihannya itu menunjukkan berbagai bentuk seperti lonjong, segi empat, segitiga dan beberapa di antaranya ada yang mempunyai bentuk berpinggang. Alat-alat dari tulang dan sisa-sisa tulang belulang manusia dikuburkan dalam posisi terlipat serta ditaburi zat warna merah. Kebudayaan Bacson-Hoabinh ini diperkirakan berkembang pada zaman Mesolitikum.
Pusat kebudayaan zaman Mesolitikum di Asia berada di dua tempat yaitu di Bacson dan Hoabinh. Kedua tempat tersebut berada di wilayah Tonkin di Indocina (Vietnam). Istilah Bacson Hoabinh pertama kali digunakan oleh arkeolog Prancis yang bernama Madeleine Colani pada tahun 1920-an. Nama tersebut untuk menunjukkan tempat pembuatan alat-alat batu yang khas dengan ciri dipangkas pada satu atau dua sisi permukaannya.

Kamis, 12 Desember 2013

Pengaruh Peradaban India, Cina, dan Kebudayaan Yunan terhadap Peradaban di Indonesia.

Pengaruh Peradaban  India, Cina, dan Kebudayaan Yunan terhadap Peradaban di Indonesia.
(Dila Nurrohmah)
  A.    India
Hubungan antara India dengan Indonesia telah terjalin sejak zaman dahulu kala. India dan Indonesia telah menjalin hubungan perdagangan sejak lama. Hubungan perdagangan ini juga telah mengakibatkan terjadinya pertukaran kebudayaan, terutama pengaruh budaya dan agama (Hindu dan Buddha) India ke Indonesia. Pengaruh budaya India di Indonesia sangatlah  besar. Pengaruh kebudayaan Indiaini  sangat  mudah diterima di Indonesia karena  unsur-unsur budaya India telah ada dalam kebudayaan asli bangsa Indonesia, sehingga hal-hal baru yang mereka bawa mudah diserap. Meskipun kebudayaan Hindu yang datang dari India telah lebih maju dari pada peradaban Indonesia akan tetapi kebudayaan Hindu sama primitive dalam arti kebudayaan Hindu berdasarkan cara berfikir yang kompleks dan emosiani. Dalam budaya Hindu kedudukan roh-roh dan kekuatan gaib juga dianggap penting. [1] Beberapa bukti pengaruh budaya India di Indonesia adalah:
  1.    Adanya arca Buddha dari perunggu di Sempaga (Sulawesi Selatan) sebagai bukti tertua bergaya amarawati (gaya India Selatan), arca sejenis juga ditemukan di Jember dan Bukit Siguntang, Sumatra Selatan. Arca Buddha lainnya yang ditemukan di Kota Bangun, Kutai, bergaya gandhara (gaya India Utara). 
  2.     Ditemukan prasasti di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara yang terpengaruh India, yaitu berbahasa Sanskerta dan berhuruf Pallawa.  
  3.      Adanya bangunan candi dan arca yang terpengaruh oleh Hindu dan Buddha. 
  4.     Adanya prasasti Sriwijaya yang ditulis dalam bahasa Melayu Kuno berhuruf Pallawa yang sudah menonjol unsur Indonesianya. 
  5.    Adanya bukti Arkeologi di Indonesia bahwa pengaruh India ada dalam budaya Nusantara. 
  6.    Dalam berbagai hal pengaruh India itu terlihat. Di bidang pemerintahan muncul kerajaan, dalam bidang kebudayaan pengaruh India melahirkan candi megah di Nusantara, misalnya, candi Borobudur, Prambanan, di bidang social melahirkan ikatan-ikatan desa dan ikatan feodal.[2]

Peradaban Lembah Sungai Indus dan Sungai Gangga

Sungai Indus

Kebudayaan India Awal

Letak peradaban terbesar bangsa India adalah teletak di Mohenjodaro dan Harapa. Suku asli India adalah bangsa Dravida yang kemudian eksistensinya sedikit demi sedikit tergusur oleh kedatangan bangsa Arya dari Asia Barat[1]. Peradaban India sering disebut dengan peradaban sungai Indus yang dialiri oleh lima anak sungai yaitu; Yellum, Chenab, Ravi, Beas, Suttly yang kemudian terkenal dengan sebutan Punjab (Daerah lima Aliran Sungai). Peradaban lembah sungai Indus sebanding dengan peradaban Mesopotamia, lembah sungai Huangho, dan Mesir,dengan penduduk asli adalah orang-orang Dravida, mempunyai cirri-ciri berkulit hitam dan pada saat itu mereka belum mempunyai kepercayaan atau agama yang tetap.[2]
Seperti yang telah disinggung diatas hasil peradaban terbesar lembah sungai Indus adalah keberadaan kota Mohenjodaro dan Harapa. Kota Mohenjodaro merupakan gambaran kota pada masa India lama. Disana telah ditemukan bangunan perumahan, balai besar dan juga pemandian. Bahan pokok dari bangunan-bangunan tersebut adalah sebuah batu bata merah dengan ukuran kira-kira 25 X 50 X 3,5 inchi. Rumah-rumah padakota Mohenjodaro mempunyai halaman-halaman yang luas.
Letak kota lembah sungai Indus sendiri tepatnya di daerah perbukitan Baluchistan yang kemudian menghasilkan kebudayaan Nal. Daerah-daerah yang terletak di sepanjang sungai  Indus kemudian sering disebut dengan kebudayaan Harappa dan Mohenjodaro. Letak Mohenjodaro dan Harappa sendiri kurang lebih 800 km[3]. Dalam penggalian terbaru telah banyak ditemukan kota-kota baru di Mohenjodaro dan Harappa. Pada masa Mohenjodaro dan Harappa telah ditemukan benda-benda yang pada saat itu sudah merupakan benda yang sangat mengagumkan dengan keunikan dan keelokan tersendiri.
Dengan sumber-sumber yang telah ada membuktikan bahwa sungai Indus, tepatnya peradaban lembah sungi Indus telah menjadi salah satu sumber perdaban di dunia. Padahal pada waktu Indonesia belum berkembang seperti halnya India, ataupun Mesopotamia, Mesir dan bahkan Eropa.

Peradaban Lembah Sungai Indus


Dinasti-dinasti yang berkuasa pada masa Cina kuno.

Dinasti Shang (1766-1122 SM)


           
Dengan masuknya Dinasti Shang menandai masuknya China ke zaman sejarah. Pada awalnya Shang adalah nama sebuah suku yang mendiami salah satu bagian sungai Huang he dan merupakan bawahan dari dinasti Xia. Kaisar Tang yang merupakan pendiri dinasti Shang adalah keturunan ke-14 dari Xia.  Sebelum menumbangkan Dinasti Xia, Tang adalah seorang Fan bo atau raja bawahan dinasti Xia. Setelah menggulingkan dinasti Xia, Tang mendirikan dinasti Shang, serta menjadikan Bo sebagai ibukotanya. Tang mempelajari kesalahan pendahulunya, sehingga tidak memperlakukan rakyatnya secara semena-mena, serta banyak mempekerjakan menteri baik dan bijaksana. Oleh karena itu pada masa pemerintahanya terjadi kemajuan yang pesat.
a.  Perkembangan Seni, Teknologi, dan Sosial Budaya
Peninggalan utama Dinasti Shang adalah apa yang disebut dengan tulang-tulang ramalan, yaitu tulisan pada tulang dan tempurung kura-kura. Pada masa dinasti Shang tulang-tulang itu digunakan untuk meramal dan menanyakan pada para dewa serta roh nenek moyang. Tulang-tulang itu dibakar setelah pertanyaan di tuliskan di atasnya dan orang pada zaman itu percaya jawabanya ditafsirkan dari retakan tulang tersebut.
Kemajuan  Dinasti Shang yang adalah dalam bidang peternakan dan pertanian yaitu mereka telah mengembangkan teknologi tinggi dalam menanam jewawut, gandum dan jelai. masyarakat Shang juga telah mengembangbiakan ulat sutera, babi, anjing, domba, dan sapi. Berdasarkan hasil penggalian, ditemukan betapa majunya dinasti Shang dalam membuat barang-barang dari perunggu, seperti bejana dan senjata.
Pada masa Dinasti Shang berkembanglah sistem perbudakan, di mana kaum bangsawan hidup dalam kemewahan, sementara kaum budak hidup dalam kondisi yang sangat buruk. Setelah pemilik budak meninggal, maka budak-budaknya juga dikubur hidup-hidup sebagai korban bersama-sama dengan persembahan berupa hewan. Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan di sini. Para budak, tidak seperti halnya perbudakan di Tibet, Amerika atau tempat lainnya, perbudakan yang terjadi adalah seseorang menjual dirinya kepada seorang majikan sebagai pelayan seumur hidup, jadi mereka diperlakukan sebagai pelayan secara manusiawi dan mengganti marga mereka sesuai dengan majikannya. pengertian dikubur hidup-hidup harus dijelaskan bahwa yang bersangkutan ikut dikubur sebagai pelayan, tidak langsung mati saat dikubur, kuburan orang kaya di Tiongkok besar sekali ukurannya, bisa sebesar rumah bahkan lebih dalamnya, jadi para pelayan itu ikut masuk di dalam kuburan dan duduk di ruangan pelayan, dan disediakan lampu minyak sebagai penerangan dan makanan serta minuman untuk beberapa saat, kalau makanan dan minumannya habis baru mereka mati.

Dinasti Zhou (1066 SM - 221 SM)



Dinasti Zhou adalah dinasti terakhir sebelum Cina resmi disatukan di bawah Dinasti Qin. Dinasti Zhou adalah dinasti yang bertahan paling lama dibandingkan dengan dinasti lainnya dalam sejarah Cina, dan penggunaan besi mulai diperkenalkan di Cina mulai zaman ini. Sesuai tradisi feodal Cina, para penguasa Zhou mengantikan Dinasti Shang (Yin) dan mengesahkan aturan yang menetapkan mereka sebagai mandat langit, dimana para penguasa memerintah atas mandat dari langit. Bila mandat dari langit dicabut, rakyat berhak menggulingkan penguasa tadi. Perintah langit ditetapkan oleh asumsi nenek moyang Zhou, Tian-Huang-Shangdi, berada di atas nenek moyang Shang, Shangdi. Doktrin ini menjelaskan dan membenarkan kekalahanDinasti Xia dan Shang, dan pada waktu yang sama mendukung hak kekuasaan para penguasa sekarang dan masa depan.

Dinasti Zhou didirikan oleh keluarga Ji () beribukota di Hao (, sekarang di sekitar Xi'an), meneruskan corak budaya dan bahasa dari dinasti sebelumnya, ekspansi Zhou pada awalnya adalah melalui penaklukan. Secara berangsur-angsur Zhou memperluas budaya Shang sampai ke wilayah utara Sungai Panjang.

Pada awalnya keluarga Ji mengendalikan negara Zhou secara terpusat. Pada tahun 771 SM, setelah Raja You (周幽王) menggantikan ratunya dengan Selir Baosi, ibukota diserang oleh kekuatan gabungan dari ayah ratu, pangeran Shen yang bersekutu dengan suku-suku asing. Kemudian, putra sang ratu, Ji Yijiu (姬宜臼) dinaikkan menduduki tahta sebagai raja baru oleh para bangsawan dari negara Zheng, Lü, Qin dan pangeran Shen. Ibukota negara kemudian terpaksa dipindahkan ke sebelah timur di tahun 722 SM, tepatnya ke Luoyang di propinsi Henan sekarang.

Pembagian Dinasti Zhou Barat dan Zhou Timur[

Oleh karena pemindahan ibukota ini, para sejarahwan kemudian membagi Dinasti Zhou menjadi Dinasti Zhou Barat (西周) dari akhir abad ke-10 SM sampai dengan tahun 771 SM, serta Dinasti Zhou Timur (東周) dari tahun 770 SM sampai dengan tahun 221 SM. Tahun permulaan Zhou Barat tetap masih dalam perdebatan, antara – tahun 1122 SM, tahun 1027 SM atau tahun lain dalam ratusan tahun dari akhir abad ke-12 SM. Pada umumnya, sejarawan Cina menetapkan tahun 841 SM sebagai tahun awal mula dari tahun pemerintahan Dinasti Zhou dalam sejarah Cina.
Berdasarkan sejarahwan Cina terkenal, Sima Qian di dalam karya tulisnya Catatan Sejarah Agung, Zhou Timur dibagi lagi dalam dua zaman yaitu Zaman Musim Semi dan Gugur dan Zaman Negara-negara Berperang.

Kemunduran

Setelah perpecahan di pusat kekuasaan, pemerintah Zhou makin lemah dalam menjalankan pemerintahan. Setelah Raja Ping (周平王), raja-raja Zhou yang kemudian berkuasa tidak memiliki kekuasaan yang nyata karena kekuasaan sebenarnya ada di tangan para bangsawan yang kuat. Mendekati penghujung Dinasti Zhou, para bangsawan tidak meletakkan lagi eksistensi keluarga Ji sebagai simbol pemersatu kerajaan dan masing-masing mengangkat diri mereka sendiri sebagai raja. Dinasti Zhou pecah menjadi beberapa negara kecil-kecil yang bertempur satu sama lainnya. Zaman ini kemudian terkenal sebagai Zaman Negara-negara Berperang, di mana kemudian diakhiri dengan penyatuan Cina di bawah Dinasti Qin.

Pertanian

Pertanian di Dinasti Zhou sangat intensif dan dalam banyak kesempatan diarahkan langsung oleh pemerintah. Semua tanah pertanian dimiliki oleh para bangsawan, yang kemudian memberikan tanah mereka kepada budak mereka. Sebagai contoh, suatu lahan dibagi menjadi sembilan bujur sangkar dalam ukuran jing (巾), dengan hasil gandum dari pertengahan bujur sangkar diambil oleh pemerintah dan sisanya disimpan oleh petani. Dengan cara ini, pemerintah bisa menyimpan surplus makanan dan mendistribusikan kembali pada waktu kelaparan atau panen tidak baik. Beberapa sektor manufactur penting selama periode ini termasuk kerajinan perunggu, yang di integralkan dalam pembuatan senjata dan perkakas pertanian. Sekali lagi, industri ini dikuasai oleh bangsawan yang mengarahkan material produksi.


Dinasti Chin (221-27 SM)

Tiga puluh tahun setelah Dinasti Chou berakhir, negara vassal Chin di bawah pimpinan Cheng berhasil menaklukkan 6 negara vassal yang lain, dan selanjutnya mendirikan Dinasti Chin. Setelah berkuasa, Cheng menggunakan gelar Shih Huang Ti. Raja Cheng menganggap dirinya lebih kuat dari Tiga Raja dan Lima Kaisar. Untuk menunjukkan kebijaksanaan dan kepandaiannya ia menggunakan gelar Huang Ti, dalam gelar ini terhimpun gelar Tiga Raja dan Lima Kaisar tersebut. Sebutan Huang Ti pada umumnya sama dengan Kaisar.
Dinasti Chin penting dalam Sejarah Cina karena dinasti inilah yang berhasil mencetuskan sistem pemerintahan kekaisaran yang dapat berlangsung sampai awal abad ke-20. Di bawah pemerintahan Shih Huang Ti, seluruh wilayah Cina berhasil dipersatukan.
Shih Huang Ti memegang pemerintahan sejak usia 13 tahun. Salah satu keberhasilannya adalah ia dapat mempersatukan seluruh Cina. Keberhasilan Shih Huang Ti ini dipengaruhi oleh wilayah Dinasti Chin yang terletak di antara Shensi dan Kansu, letak ini memungkinkan Dinasti Chin mudah menyerang tetapi sulit untuk diserang. Selain itu karena ia mempunyai banyak ahli tata negara yang pandai seperti Hertog Mu dan Hertog Hsiao.
Dinasti Chin dibangun di atas konsepsi ajaran golongan legalitas di bawah pimpinan Perdana Menteri Shang Yang, sehingga Kerajaan Chin menjadi kuat. Pada 214 SM, Dinasti Chin berhasil mengadakan ekspansi ke Chekiang, Fukien, dan Kwangtung sampai Sungai Merah di Indocina. Kemudian pada 215 SM, ekspansi dilanjutkan ke daerah Hunan, Szechuan, Kwelchow, bahkan sampai ke Korea.
Penasehat utama Kaisar Shih Huang Ti adalah Li Ssu, murid dari Shun Tze. Yang diingat Li Ssu dari ajaran gurunya, hanyalah bagian yang menyatakan bahwa sifat manusia pada dasarnya buruk dan ia berharap untuk memperbaiki sifat tersebut dengan memberikan hukuman-hukuman yang berat.
Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Shih Huang Ti:
1.       Membangun Tembok Besar yang terkenal dengan nama The Great Wall, Tembok Raksasa atau Wan Li Chang Cheng untuk menahan serangan bangsa barbar (bangsa Hsiung Nu). Panjang tembok ini kurang lebih 10.000 li atau 6.450 km. Tembok ini dibangun memanjang dari barat daya yaitu dari wilayah Kansu, melintasi Sunga Hoang Ho dan masuk wilayah Mongolia Dalam, menembus ke arah selatan ke Shensi dan Hopei dan membelok ke arah timur sampai ke Teluk Liaotung di Lautan Pasifik.
2.       Menghapuskan feodalisme dan membentuk pemerintahan yang bersifat sentralisasi.
3.       Mengadakan pembakaran terhadap buku-buku kuno karya Kung Fu Tze kecuali buku tentang pertanian, pengobatan, dan ramalan.
4.       Penyeragaman tulisan di Cina.
5.       Penyeragaman ukuran, timbangan, perkakas pertanian, ukuran roda dan sebagainya.
6.       Membangun jalan raya, jembatan, dan saluran air.
7.       Benteng-benteng yang tidak digunakan di daerah dimusnahkan agar tidak terjadi pemberontakan.
Pada 210 SM Shih Huang Ti meninggal dunia. Ia meninggal dalam perjalanan. Meninggalnya kaisar dirahasiakan selama rombongan belum sampai di istana, karena dikhawatirkan akan timbul pemberontakan akibat masa pemerintahannya yang penuh kekejaman. Untuk mengelabui masyarakat, seorang hamba istana didudukkan di kereta tertutup yang memuat peti jenazah kaisar, selama perjalanan ia berlaku sebagai Shih Huang Ti dengan memberikan jawaban atas laporan para opsir.
Sebelum Shih Huang Ti meninggal, ia telah menulis surat yang mengangkat Fu Ssu, puta sulungnya sebagai penggantinya. Namun, pada saat itu timbul komplotan yang terdiri dari Li Ssu (penasehat utama Shih Huang Ti) dan Chao Kao yang membuat surat palsu. Surat palsu tersebut ditujukan kepada Fu Ssu, agar ia bunuh diri. Selanjutnya komplotan ini mengumumkan sabda kaisar palsu, yang mengangkat Hu Hai, putra kedua kaisar sebagai pengganti Shih Huang Ti. Hu Hai memegang pemerintahan dengan gelar Erl Shih Huang Ti yang berarti kaisar kedua. Pemakaian gelar tersebut sebenarnya didasarkan atas perintah Shih Huang Ti yang ingin melihat sejarah Cina dimulai dari kejayaannya sebagai kaisar pertama. Kemudian dilanjutkan anaknya sebagai kaisar kedua, cucunya sebagai kaisar ketiga, dan seterusnya.
Dalam hal pembawaan dan kesombongan, Erl Shih Huang Ti mempunyai kemiripan dengan ayahnya. Namun, ia tidak cakap dalam hal pemerintahan, bahkan ada di bawah pengaruh komplotan Chao Kao dan Li Ssu. Akhirnya timbul kekacauan di Istana akibat pemalsuan Surat wasiat. Chao Kao membunuh pembantu-pembantu Shih Huang Ti seperti Meng Tien dan Li Ssu. Bersamaan dengan kekacauan ini, muncul pemberontakan yang dipimpin Chen She. Latar Belakang dari pemberontakan ini adalah rombongan mereka datang terlambat untuk membuat tembok di daerah utara. Padahal ada sanksi, siapa yang datang terlambat akan dijatuhi hukuman. Sebelum hukuman dijatuhkan rombongan ini memutuskan untuk memberontak terlebih dahulu. Pemberontakan ini akhirnya dapat diredam.
Pada 207 SM Erl Shih Huang Ti dibunuh oleh Chao Kao. Sebagai penggantinya diangkatlah cucu Shih Huang Ti yaitu Tze Ying. Tze Ying mengetahui perbuatan Chao Kao yang keji, ia akhirnya memutuskan untuk membunuh Chao Kao beserta keluarganya. Situasi kerajaan semakin bertambah kacau karena hal ini. Kekacauan ini dimanfaatkan oleh pemberontak untuk merebut tahta kerajaan.
Pemberontakan di bawah pimpinan Hsiang Yu berhasil memasuki istana dan membunuh Tze Ying. Dengan meninggalnya Tze Ying, maka berakhirlah Dinasti Chin yang hanya bertahan selama 15 tahun setelah Shih Huang Ti meninggal.




Dinasti Tang



Dinasti Tang (618 - 907) adalah satu dari tiga dinasti yang paling berpengaruh di Cina sepanjang sejarahnya. Dinasti Tang menggantikan Dinasti Sui yang berumur pendek, didirikan oleh keluarga Li. Li Yuanmendirikan dinasti ini pada tahun 618 dan menetapkan Chang'an sebagai ibukota dinasti ini. Di tengah masa kejayaan dinasti ini, ada masa 15 tahun di mana Kaisar Wu Zetian memaklumatkan Dinasti Zhou kedua. Kaisar Wu Zetian merupakan kaisar wanita satu-satunya di dalam sejarah kekaisaran Cina.
Nama Tang sendiri berasal dari nama kuno daerah Jin yang sekarang menunjuk kepada provinsi Shanxi. Setelah Dinasti Tang berdiri keadaan tidaklah langsung aman. Selama kurang lebih enam tahun kekacauan yang diakibatkan oleh pertikaian antar berbagai fraksipun berkecamuk. Li Yuan dengan dibantu puteranya Li Shimin berjuang keras untuk memulihkan perdamaian. Usaha ini akhirnya berhasil dan meletakkan dasar bagi kestabilan politik di sepanjang sejarah Dinasti Tang.
Pada masa kekuasaan Taizong hubungan antara timur dan barat makin terbuka dan Chang-an, ibu kota Dinasti Tang menjadi kota terbesar dan termegah pada jamannya. Salah satu prestasi terkenal pada masa kini adalah perjalanan Bhikshu Xuanzang (kembali ke Chang-an pada tahun 645) untuk mengambil kitab suci Tripitaka di India, dimana perjalanan ini mengandung semangat penjelajahan yang baru menghinggapi bangsa barat sekitar 600 tahun kemudian. Rute perjalanannya mirip dengan rute Marcopolo, sehingga Xuanzang terkadang disebut sebagai Marcopolonya Tiongkok.
Pengganti Taizong adalah kaisar-kaisar lemah. Berturut-turut Tiongkok diperintah oleh Gaozong (649 – 683), Zhongzong (684; 705 – 710), dan Ruizong (684 – 690; 710 – 712). Kaisar Gaozong adalah seorang yang lemah secara fisik, sehingga akhirnya sedikit demi sedikit kekuasaan jatuh pada selir kesayanganya yang ambisius, bernama Wu Zetian (690 – 705). Ketika Gaozong terkena stroke pada tahun 660 dan mengalami kebutaan serta kelumpuhan, Wu mulai bertindak atas nama suaminya di dalam memegang kekuasaan kenegaraan.
Setelah kematian suaminya, Wu mengangkat berturut-turut dua orang kaisar, yakni Zhongzong dan Ruizong sebagai kaisar boneka, sebelum akhirnya pada tahun 690, ia mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar dan menyebut Dinastinya dengan nama Zhou. Namun sayang sekali Wu lupa diri dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan moralitas di istananya. Penyuapan dan korupsi marak di mana-mana, sehingga sang kaisar wanitapun kehilangan simpati rakyat. Pada tahun 705 setelah gagal menyelamatkan kekasih-kekasihnya dari pembunuhan oleh pengawal istana yang marah, Ratu Wu turun tahta. Kaisar Zhongzong dan Ruizong naik tahta kembali, sehingga dengan demikian Dinasti Tang bangkit kembali.

Dinasti Han

Dinasti Han terbagi menjadi Dinasti Han Barat dan Dinasti Han Timur. Zaman Dinasti Han Barat dimulai dari tahun 206 Sebelum Masehi dan berakhir pada tahun 8 Masehi. Liu Bang, yang lazim disebut sebagai Han Gaozu adalah kaisar pertama Dinasti Han dengan Chang’an sebagai ibukotanya.
Selama 7 tahun berkuasanya, Kaisar Han Gaozu meningkatkan penguasaan sentralisasi pemerintah dan menjalankan serentetan kebijakan politik “pemberdayaan rakyat” sehingga kekuasaan negara menjadi lebih kokoh. Pada tahun 159 Sebelum Masehi, Kaisar Han Gaozu meninggal dan Kaisar Huidi naik takhta. Namun pada saat itu, kekuasaan sebenarnya dipegang oleh Permaisuri Lu Zhi yang berturut-turut berkuasa selama 16 tahun. Dengan demikian, ia juga menjadi salah seorang penguasa wanita yang jumlahnya tidak banyak dalam sejarah Tiongkok. Tahun 183 Sebelum Masehi, Kaisar Wendi naik takhta. Selama berkuasanya Kaisar Wendi dan kemudian Kaisar Jingdi, yaitu putranya antara tahun 156 Sebelum Masehi dan tahun 143 Sebelum Masehi mereka terus menjalankan kebijakan “pemberdayaan rakyat”, meringankan pajak yang sangat membebani rakyat sehingga ekonomi Imperium Dinasti Han berkembang makmur. Masa itu dipuji oleh sejarawan sebagai Zaman Wendi dan Jingdi Yang Ulung.
Melalui pemulihan ekonomi pada Zaman Wendi dan Jingdi Yang Ulung itu, kekuatan negara Dinasti Han berangsur-angsur menjadi perkasa. Pada tahun 141 sebelum Masehi, Kaisar Wudi naik takhta. Selama berkuasanya, ia mengirim Jenderal Wei Qing dan Jenderal Huo Qubing memimpin pasukan menangkis serangan pasukan Xiongnu, suku penggembala di bagian utara Tiongkok. Keberhasilan militer kedua jenderal itu memperluas lingkungan penguasaan Dinasti Han Barat dan menjamin perkembangan ekonomi dan kebudayaan bagian utara wilayah kekuasaan Dinasti Han. Kaisar Wudi pada masa usia lanjutnya menghentikan peperangan dan mengalihkan perhatiannya pada pengembangan pertanian sehingga ekonomi Dinasti Han Barat terus berkembang. Setelah itu, Kaisar Zhaodi naik takhta, kemudian terus berusaha mengembangkan ekonomi dan berkat upayanya itu, Dinasti Han memasuki masa emasnya.
Berkat pelaksanaan kebijakan “pemberdayaan rakyat” selama 38 tahun pada masa berkuasanya Kaisar Zhaodi dan Kaisar Xuandi, kekuatan negara Dinasti Han meningkat, namun bersamaan itu, kekuatan daerah juga meningkat pada waktu yang sama dan sangat mempengaruhi kekuasaan Imperium Dinasti Han. Pada tahun 8 Masehi, seorang bernama Wang Mang merebut kekuasaan dan mengubah nama negara menjadi Xin, berarti berakhirnya kekuasaan Dinasti Barat dalam sejarah.
Dinasti Han Barat adalah salah satu imperium paling kuat dalam sejarah Tiongkok. Selama berkuasanya Dinasti Han Barat, berkat pelaksanaan kebijakan “pemberdayaan rakyat” yang dimaksudkan untuk mengembangkan ekonomi, kehidupan rakyat stabil dan tenteram, ekonominya pun makmur. Dengan demikian pemerintahan Dinasti Han berjalan lancar dan stabil. Yang patut disebut ialah, Kaisar Wudi yang mulai berkuasa pada tahun 141 menerima usul Menteri Dong Zhongshu yang berisi “melarang segala aliran pikiran kecuali aliran Ru”. Sejak itu, Ajaran Ru menjadi teori penyelenggaraan negara yang selalu ditaati oleh berbagai dinasti pada hari kemudian.
Berkat kestabilan politik dan ekonomi, industri kerajinan tangan, perdagangan, kesenian humaniora dan ilmu pengetahuan alam semuanya mengalami perkembangan pesat. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, efisiensi produksi industri kerajinan tangan dengan metalurgi dan tekstil sebagai tulang punggungnya sangat ditingkatkan. Perkembangan industri kerajinan tangan juga memakmurkan perdagangan dan pada akhirnya terbukalah Jalan Sutra yang menjembatani pertukaran diplomatik dan perdagangan antara Dinasti Han dan negara-negara Asia Barat.
Dinasti Han Timur yang didirikan Liu Xiu, yaitu Kaisar Guangwu dimulai dari tahun 25 Masehi dan berakhir pada tahun 220 Masehi.
Pada tahun 25, Liu Xiu mengalahkan Wang Mang yang menggulingkan kekuasaan Han Barat untuk merebut kembali kekuasaan dan tetap menerapkan Han sebagai nama negara, tapi memindahkan ibukota dari Chang’an ke Luoyang Tiongkok Tengah. Pada tahun kedua berkuasanya, Kaisar Guangwu memerintahkan mengadakan reformasi terhadap kebijakan lama yang dijalankan oleh Wang Mang dengan membenahi tata tertib politik dan menciptakan enam jabatan Shangshu untuk menangani urusan negara. Sampai pada pertengahan abad kesatu Masehi, Dinasti Han Timur berangsur-angsur pulih kembali dan menjadi makmur seperti masa lalu berkat penyelenggaraan pemerintahan oleh tiga kaisar berturut-turut. Masa itu dipuji orang kemudian sebagai “pemulihan Kaisar Guangwu”.
Pada awal Dinasti Han Timur, berkat peningkatan lebih lanjut kekuasaan dan harmonisnya pemerintahan pusat dengan kekuatan lokal, negara semakin stabil dan mencapai taraf yang lebih tinggi daripada Dinasti Han Barat di bidang ekonomi, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 105, seorang bernama Cai Lun menciptakan teknologi pembuatan kertas, suatu penemuan yang mengakhiri sejarah pemakaian kepingan bambu sebagai alat catatan. Sampai sekarang, teknologi pembuatan kertas masih sering disebut-sebut sebagai salah satu dari empat penemuan besar dalam sejarah Tiongkok. Di bidang ilmu pengetahuan, kalangan keilmuan Dinasti Han Timur dengan Zhang Heng sebagai wakilnya mencetak hasil yang sangat mengagumkan. Zhang Heng diperingati dalam sejarah karena penemuan globe dan alat pencatat dan pengukur gempa bumi. Selain itu, dokter terkenal dalam sejarah, Hua Tuo yang hidup pada masa akhir Dinasti Han Timur adalah dokter ahli bedah pertama yang melakukan pembedahan terhadap seorang pasien dengan menggunakan teknik pembiusan.





sumber : 

Ivan Taniputera. 2011. History of China. Yogyakarta: Ar-ruzz Media
Leo Agung S. 2012. Sejarah Asia Timur 1. Yogyakarta: Ombak.

Ook, Cho Han; Yeon, Eom Ho; Bae Gwang, Seon2012.Peradaban China dan India Kuno (Terjemah=Novianti, Endah Nawang). PT Elex Media Komputindo (di Korea= YeaRimDang Publishing Co., Ltd). ISBN 978-602-00-2044-0.

http://id.wikipedia.org/wiki/Dinasti_Zhou

http://indonesian.cri.cn/chinaabc/chapter14/chapter140105.htm